liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Putar Otak Terbentur Pandemi, Usaha Ini Kantongi Omset Rp 1 M

Jakarta, CNBC Indonesia – Tidak semua periode krisis berakhir dengan keruntuhan ekonomi. Bagi yang mampu beradaptasi, masa krisis bisa menjadi momentum untuk bangkit lebih tinggi. Itulah yang dirasakan oleh tiga pendiri Sovlo, Lidya Valensi, Afra Viena, dan Djohan yang berhasil membawa bisnisnya yang lahir di masa krisis pandemi menjadi omzet Rp 1 miliar.

Sovlo berarti oleh-oleh lokal. Brand ini lahir pada Juni 2020, saat kasus Covid-19 sedang tinggi dan banyak bisnis yang harus tutup karena sepi pembeli. Guncangan ekonomi juga dirasakan oleh ketiga pendiri Sovlo.

Saat itu, Lidya dan pasangannya sudah memiliki bisnis kado untuk pernikahan dan perusahaan, namun belum retail. Bisnis ini berada di bawah perusahaan Lotus Group. Namun, saat pandemi datang, permintaan suvenir terhenti karena semua acara dialihkan secara online. Akibatnya, terjadi penurunan permintaan yang drastis yang memaksa mereka berebut untuk bertahan hidup.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Awalnya perusahaan kami mengeluarkan souvenir pernikahan dengan korporat, namun saat pandemi tidak ada yang benar-benar memesan souvenir karena tidak ada corporate wedding, saya tidak terpikir untuk memesan souvenir,” kata Agnes, Retail Manager Sovlo saat ditemui CNBC Indonesia di Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) Rabu (26/22/2022).

Berawal dari keinginan untuk menyelamatkan 40 penjahit dan pekerjanya yang banyak, akhirnya mereka mendapat inspirasi untuk memproduksi oleh-oleh lokal dan menjualnya secara eceran. Untuk menambah nilai produk ini, mereka membeli desain ilustrasi dari seniman mancanegara dan mengaplikasikannya pada tas yang merupakan produk ilustrasi pertama mereka. Untuk memasarkan produk tersebut, mereka menggunakan layanan e-commerce yang semakin meningkat di masa pandemi. Ternyata produk tersebut laris manis di toko online sehingga akhirnya mereka membuat desain sendiri.

“Kita punya sekitar 40 penjahit di kantor, kita juga harus dibayar, kalau tidak kita tidak akan bisa bertahan. Akhirnya, kita dapat inspirasi untuk produk seperti ini (produk desain bergambar), dijual di e-commerce, ternyata banyak peminatnya, awalnya kita desain, saya beli dari ilustrator eksternal, ternyata kipasnya lumayan bagus, akhirnya kita punya desainer internal, kita jual lagi buat bikin baju, ternyata peminatnya cukup bagus,” katanya.

Memberdayakan ilustrator lokal

Ternyata, hasil penjualan online menunjukkan peningkatan permintaan yang sangat signifikan. Untuk menambah pilihan dan memperluas ide desain ilustrasi produk, Sovlo akhirnya mengadakan kompetisi desain yang diikuti oleh banyak ilustrator lokal. Dari kompetisi ini, desain ilustrasi menjadi lebih beragam dan semakin meningkatkan penjualan Sovlo di masa mendatang.

“Setelah kami menggunakan desainer kami sendiri, ternyata permintaannya bagus. Kami mencari ilustrator di luar, jadi kami membuka kompetisi. Siapa pun yang ingin berpartisipasi, dapat mengirimkan desainnya di Instagram terlebih dahulu. Kemudian ternyata banyak. orang bergabung dengan kami. Kami memilih untuk membuat produk menjadi lebih baik,” ujarnya.

Karena hasil penjualan yang lebih baik dengan keterlibatan ilustrator lokal, akhirnya Sovlo menerima lebih banyak desain. Jadi sekarang, semua orang, mulai dari pelajar sekolah hingga ibu rumah tangga, bisa mengirimkan desainnya ke Sovlo untuk dikurasi menjadi produk. Melalui gerakan #BanggaIlustratorLokal, Sovlo memberdayakan ilustrator lokal dengan skema bagi hasil untuk setiap produk yang terjual.

Mengangkat isu pemberdayaan perempuan

Sovlo menjadi salah satu bisnis yang beruntung mengalami peningkatan momentum penjualan di masa pandemi. Keberuntungan ini datang dari kemampuan Sovlo melihat peluang kebiasaan baru yang lahir dari wabah tersebut. Pasalnya, saat wabah Sovlo melihat banyak perempuan merasakan beban ganda menjadi seorang ibu, cerita tersebut akhirnya dijadikan tema ilustrasi berjudul ‘perempuan tangguh’. Tema ‘perempuan tangguh’ ini kemudian muncul dan membuat orang berduyun-duyun membeli produk Sovlo.

“Saat wabah banyak anak perempuan yang bermasalah, ada dokter yang harus jadi ibu rumah tangga juga, ada ibu bekerja yang harus mengurus anaknya juga,”

Untuk meliput kisah-kisah di masa pandemi yang bisa dijadikan inspirasi, Sovlo membuat komunitas di media sosial. Dari situ, Sovlo mendapat ide cerita bergambar yang kemudian diproduksi menjadi berbagai produk, seperti tas dan baju. Terakhir, orang-orang yang merasa memiliki kesamaan cerita dengan senang hati membeli dan berbagi dengan teman-teman lainnya untuk saling menguatkan. Oleh karena itu, jaringan komunitas online ini semakin membantu Sovlo tumbuh menjadi brand lokal ternama.

“Kami ada komunitas di Telegram, ibu-ibu bercerita tentang kehidupan mereka selama pandemi, lalu mendesain berdasarkan cerita mereka. Ketika kami membuat cerita bergambar di produk mereka, mereka senang, mereka membeli dan memposting di Instagram, lalu kami memposting lagi, jadi dari situ banyak yang tahu dan suka,” jelasnya.

Dengan bisnis yang berkembang di berbagai platform e-commerce, Sovlo kini memiliki 9 toko offline, 2 di antaranya berada di luar Jakarta di Yogyakarta dan Medan. Selain itu, penjualan Sovlo juga terbantu dengan berbagai kegiatan dan pameran yang diikutinya. Hingga dari pengembangan bisnis tersebut, Solvo mampu meraup keuntungan lebih dari Rp 1 miliar per bulan.

“Saat ini omzet bulanan sudah melebihi Rp 1 miliar, soalnya ada 9 toko di Jogja dan di Medan untuk luar kota. Lalu setiap bulan ada 4 sampai 6 event di beberapa shopping mall di Jakarta seperti bazaar, exhibition,” terangnya.

[Gambas:Video CNBC]

(Anisa Sopiah/ayh)