liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Modal Rp100 Ribu Jadi Omzet Rp150 Juta

Jakarta, CNBC Indonesia – Pandemi COVID-19 menyisakan banyak cerita tentang kesulitan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk bertahan hidup. Namun dibalik tantangan untuk melewati masa-masa sulit ini, ada pelajaran berharga bagi mereka yang bisa membaca peluang dan berusaha bangkit menjadi lebih kuat.

Judy Kurniawan, pemilik Judy and Frances Bags (JF Bags), produsen tas anyaman premium, bercerita kepada CNBC Indonesia di Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) Rabu (26/22/2022) tentang perjuangannya bertahan di masa pandemi. . .

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

JF Bags didirikan pada tahun 2012, diawali dengan produksi tas organizer dan goodie bag kain. Modal yang dikeluarkan Judy saat itu hanya Rp 100 ribu.

“Awalnya saya bikin bag organizer, paper bag. Modalnya Rp 100.000, tapi hasilnya tetap banyak karena saya pakai bahan abal-abal. Tapi murah kan? Kalau dijual ke tukang, kasihan itu,” kata Yudi.

Foto: JF Bag. (Tangkapan layar melalui Instagram @jfbagscataloque)
tas JF. (Tangkapan layar melalui Instagram @jfbagscataloque)

Berawal dari niat baik untuk kesejahteraan karyawannya, Judy kemudian bergerak dengan memproduksi tas yang terus dikembangkannya hingga sekarang. “Kemudian, kita ingin melakukan sesuatu yang eksklusif, kita ingin naik level, kita ingin naik level, kita memohon kepada Tuhan, maka Tuhan akan mencintai kita seperti ini,” jelasnya.

Sumber inspirasi saat itu adalah tas asing. Bersama istrinya, Judy mencoba membuat tas anyaman dengan bahan asli Indonesia. “Awalnya kami terinspirasi melihat tas anyaman dari luar, kemudian kami kembangkan menggunakan bahan dari Indonesia,” ujarnya.

Judy mengatakan alasan tasnya banyak diminati karena tas yang diproduksinya eksklusif. Ia tidak memproduksi model yang sama, bahkan warna tiap tas berbeda.

Selain itu, Judy memadukan berbagai kain premium untuk ditenun sehingga membentuk model yang cantik dan elegan. Ia mencontohkan dengan menunjukkan salah satu tas anyaman yang terbuat dari perpaduan kain warna polos dan batik solo, songket tekstil Sumatera dan songket Bali.

Poin rendah

Menurutnya, wabah kemarin merupakan titik terendah mereka dalam membangun bisnis sejak tahun 2012, bahkan harus menjual cincin untuk bisa mempertahankan bisnisnya.

“Selama pandemi, stok habis, kami punya cincin untuk dijual,” katanya.

Selama Pandemi, JF Bags hanya menjual sekitar 2-4 produk per bulan sehingga pendapatan yang mereka terima hanya 5% dari pendapatan normal mereka. Bahkan, ia harus menutup penghasilan minusnya dengan uang yang tersisa.

“Sebelum pandemi pendapatan kami sekitar Rp. 100-150 juta per bulan, tapi selama pandemi kita hanya mendapat Rp. 5 juta,” imbuhnya.

Foto: JF Bag (CNBC Indonesia/ Anisa Sopiah)
Tas JF (CNBC Indonesia/ Anisa Sopiah)

Namun, situasi tersebut tidak serta merta membuat Judy menutup usahanya. Ia dan istrinya kemudian memutar otak untuk mempertahankan bisnis yang telah mereka bangun selama 10 tahun. Berkat kesabarannya, Judy kemudian mendapat bantuan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Waktu itu untung dapat KUR, jadi bisa bayar tukang, terus produksi, bisa beli bahan, kalau tidak dapat, selesai,” kenangnya.

Judy menggunakan dana KUR untuk membayar pekerja dan memproduksi lebih banyak tas sambil berharap keadaan menjadi lebih baik. “Kalaupun tidak laku, kami tetap produksi untuk stok, kami optimistis,” jelasnya.

Belakangan, Judy dan istrinya mencoba menggunakan dana yang terbatas untuk berinovasi menciptakan produk, mulai dari mengembangkan model hingga memperkaya desain tas yang mereka produksi. Momen inilah yang membuat produk mereka semakin beragam, karena di masa sulit kreatifitas mereka benar-benar terasah.

Sebelum pandemi, JF Bags sangat mengandalkan penjualan pada acara tatap muka, seperti pembukaan booth pameran. Namun di masa pandemi, kegiatan tersebut tidak memungkinkan sehingga memaksa mereka untuk berjualan secara online. Melihat peluang tersebut, Judy kemudian membuka media sosial JF Bags dengan nama @jfbagscalaoque dan mempromosikannya melalui unggahan yang lebih menarik. Berkat upaya promosinya, mereka bahkan mendapat ‘endorse gratis’ dan mendapat foto promosi dari istri Gubernur Jawa Tengah.

Kini, Judy merasa bisnisnya perlahan mulai bangkit kembali. Dari keadaan terdesak dengan modal minim, ia dan istrinya terus berinovasi memproduksi tas eksklusif dengan desain yang tidak laris manis. Hingga akhirnya sejak pameran tersebut mulai rutin digelar kembali di tahun 2022, En Judy bisa mendapatkan penghasilan seperti semula.

“Kemarin kalau ke pameran cuma dapat itu (Rp 100-150 juta),” ujarnya.

Ke depan, Judy berencana memperluas pasarnya di luar Jawa. Ia pun berharap bisa memproduksi lebih banyak lagi model dan desain tas dari kain tenun premium ini.

Dari pengalaman jatuh bangun dalam usahanya, En Judy berpesan kepada para pebisnis yang baru terjun ke dunia bisnis untuk tidak menyerah. Selain itu, ia juga menyarankan untuk mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh demi hasil yang memuaskan.

“Jangan pernah putus asa, pantang menyerah, dan produknya bagus, sehingga orang yang melihatnya akan puas,” ujarnya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Wow, Ayo BRI Go Global Bawa Fresh UMKM ke Meksiko

(mij/mij)