liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Keresahan Soeharto sampai Kiamat Telepon Umum di RI

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejak awal berkuasa, Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, menyadari bahwa jaringan komunikasi di Indonesia sangat lemah. Satu area dengan area lainnya tidak terhubung oleh jaringan komunikasi. Akibatnya, berbagai perintah darinya kepada pejabat di provinsi menjadi terhambat.

Tak hanya itu, Soeharto juga mendapat keberatan dari para duta besar negara sahabat terkait situasi ini. Mereka menghadapi kesulitan dalam berkomunikasi dengan pemerintah masing-masing. Kalau mau telpon harus ke Singapore dulu. Rumit dan sangat memakan waktu. Karena itu, Soeharto berjanji akan menjadikan jaringan komunikasi sebagai prioritasnya.

Janji Soeharto itu kemudian diwujudkan dengan hadirnya dua perusahaan komunikasi, yakni Syarikat Telekomunikasi Awam (Perumtel, cikal bakal Telkom) dan PT. Satelit Indonesia (Indosat). Perumtel menangani komunikasi domestik. Sedangkan Indosat mengurus jaringan luar negeri.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Kerja sama antara kedua perusahaan berjalan dengan baik. Sejak tahun 1970-an, wilayah-wilayah di Indonesia perlahan telah terhubung dengan jaringan telepon. Dari Aceh hingga Papua kini bisa berkomunikasi tanpa tatap muka. Begitu juga dari Indonesia hingga mancanegara. Dubes bisa berbicara langsung tanpa harus ke Singapura.

Keberhasilan pemasangan jaringan telepon telah menarik minat publik dan industri. Kedua belah pihak ingin memiliki fasilitas telepon pribadi, tidak hanya untuk militer, perwira, dan elite. Sayangnya, pemerintah tidak mampu memenuhi permintaan tersebut.

Sejarah Telepon Umum dan Wartel

“Oleh karena itu, pemerintah mengambil langkah untuk memenuhi kebutuhan sarana telekomunikasi publik, yakni dengan menyediakan layanan telepon umum,” tulis Muhammad Jihad dalam History of Public Telephones: The Up and Downs of Their Existence in Indonesia (2019).

Telepon umum diharapkan dapat menjangkau semua orang dan memenuhi kebutuhan penduduk yang tidak mampu memasang saluran telepon pribadi. Pada tahun 1980-an, Telkom yang menguasai proyek telepon umum mendirikan stasiun telepon pertama di Jakarta di Indonesia. Lokasinya di pinggir jalan dan di tengah keramaian.

Telkom menyediakan dua jenis telepon umum, yaitu Telepon Umum Coin (TUC) dan Telepon Umum Kartu (TUK). Seiring berjalannya waktu, Telkom juga menciptakan variasi baru yaitu Warung Telekomunikasi (Wartel). Wartel adalah semacam tempat khusus yang terdiri dari berbagai telepon untuk digunakan pelanggan. Biasanya dalam 1 wartel terdapat 2-5 telepon.

Kebijakan telepon umum semakin menarik minat masyarakat. Mereka yang tidak mampu memasang telepon di rumah rela mengantre di telepon umum untuk menelepon orang lain yang jauh.

Pelan-pelan, telepon umum tidak hanya ada di Jakarta, tetapi tumbuh dan menyebar ke kota-kota lain. Wartel juga muncul sebagai peluang bisnis baru yang menjanjikan. Berkat wartel, terbuka lapangan pekerjaan baru yang dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.

“Pada tahun 1992, jumlah telepon umum di Indonesia adalah 39.670. Pada tahun 1994 mencapai 71.482. Kemudian tahun 2000 ada 305.222. Pertumbuhan telepon umum mempengaruhi kepadatan sambungan telekomunikasi, dan pada akhirnya mempengaruhi PT. Pendapatan Telkom,” tulis 50 tahun Peran Pos & Telekomunikasi.

Sayangnya, memasuki tahun 2000, telepon umum mengalami penurunan permintaan. Alasannya karena ponsel semakin mudah dijangkau masyarakat karena harganya yang murah.

Jika pada tahun 1990-an harganya sekitar Rp. 5-7 juta rupiah, lalu tahun 2000-an hanya 200-700 ribu rupiah. Dengan demikian, memasuki tahun 2000, masyarakat sudah dapat memiliki telepon pribadi di rumahnya.

Bahkan, banyak orang yang sudah memiliki ponsel untuk berkomunikasi. Sejak saat itu, telepon umum mengalami penurunan. Sampai saat ini telepon umum hanya tinggal cerita karena semua ditinggalkan oleh masyarakat dan di eutanasia oleh Telkom.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Komitmen Telkom Indonesia Membangun Ekosistem Data Center RI

(mfa/mfa)