liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Jangan Sampai Data User Bocor!

Jakarta, CNBC Indonesia – Maraknya kasus kebocoran data dapat mempengaruhi kepercayaan masyarakat dalam menggunakan berbagai layanan, termasuk layanan start-up digital. Oleh karena itu, startup digital harus bisa meyakinkan penggunanya bahwa input data pribadi ke dalam platform digital akan aman alias tidak bocor.

Dalam workshop bertajuk “Sustainable Products through Proper Management of Personal Data”, penyelenggara sertifikasi elektronik (PSrE) PT Indonesia Digital Identity (VIDA) memberikan tips menjaga keamanan data pribadi pengguna kepada 20 inovator Pahlawan Digital UMKM 2022.

Product Head VIDA Ahmad Taufik mengatakan data pribadi yang diisi oleh pengguna saat mendaftar menggunakan layanan platform digital hanya data yang diperlukan untuk mengakses layanan. Jangan sampai pengguna diharuskan memasukkan banyak data pribadi yang sebenarnya tidak diperlukan sama sekali.

“Harus jelas data apa yang diminta, digunakan untuk proses apa,” kata Taufik dalam workshop daring, Selasa (25/10/2022) siang.

Selanjutnya, setelah pengguna memasukkan data pribadi yang diperlukan untuk mengakses layanan, startup digital harus dapat menyimpan data tersebut dengan aman. Hal ini dikarenakan menjaga keamanan dan kerahasiaan data pribadi pengguna merupakan bagian dari pelayanan perusahaan kepada pelanggan.

Jika data pribadi pengguna bocor, pemilik usaha yang mengumpulkan data tersebut, termasuk startup digital, dapat menghadapi konsekuensi hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi.

“Jadi dari segi infrastruktur, IT harus secure. Kalau kita tidak mengelola data nasabah dengan baik, banyak resikonya dan sekarang resikonya ada di undang-undang, ada denda, sanksi pidana,” kata Taufik.

“Selain itu, jika ada masalah dengan data pribadi pengguna atau pengguna kami, itu akan menjadi masalah tersendiri dengan kepercayaan pada layanan kami,” lanjutnya.

Sebaliknya, sistem yang aman ini harus dihadirkan dalam produk yang mudah digunakan pengguna saat memasukkan data pribadinya.

Tujuannya agar pengguna mendapatkan pengalaman yang baik (user experience/UX) saat menggunakan layanan tersebut. UX dilihat dari tiga faktor yaitu kecepatan (speed) penggunaan layanan/produk, kemudahan, dan conversion rate atau tingkat keberhasilan pengguna menyelesaikan aktivitasnya di platform.

“Produknya harus didesain sedemikian rupa agar tidak bocor, tanpa melupakan UX yang paling penting. Seaman apapun itu, kalau UX-nya tidak bagus, (layanannya) juga tidak akan digunakan. Jadi harus ada keseimbangan antara aman berdasarkan regulasi yang ada dan memperhatikan UX,” ujar Taufik.

Percayakan pada ahlinya
Untuk mencegah kebocoran data dan memberikan UX yang baik, kata Taufik, operator sistem elektronik termasuk startup digital dapat mempercayakan penyimpanan data pribadi tersebut kepada ahlinya. Salah satu cara termudah adalah mengatur fitur “Login with Google” di platform digital.

“Jika pengguna sudah memiliki akun Google, mereka dapat mendaftar dengan akun Google daripada harus mendaftar lagi untuk membuat akun baru dengan kata sandi yang panjang, sehingga nantinya tidak lupa kata sandinya,” ujar Taufik.

“Jadi salah satu cara untuk memastikan kehandalan atau menghindari resiko menempel pada kami (pemilik platform), adalah dengan mempercayai pihak yang terpercaya seperti Google,” lanjutnya.

Selain itu, pemilik platform juga dapat mempercayakan keamanan data pengguna tersebut dengan menggunakan layanan PSrE seperti VIDA. Pasalnya, VIDA harus mengotentikasi pengguna yang memiliki sertifikat elektronik di perusahaan tersebut.

Dalam workshop yang sama, Marketing Produk VIDA Mammo Hasto mengatakan bahwa VIDA menyimpan data pribadi pengguna secara aman sesuai standar global untuk mencegah kebocoran data.

“PSrE itu seperti VIDA, kami menyimpan data dalam bentuk sertifikat elektronik yang sudah menjadi standar global, ada kriptografi, enkripsi. Jadi siapapun bisa menyimpan data tapi baru bisa dibuka setelah memberikan persetujuan atau persetujuan pengguna dengan autentikasi, dalam hal ini kami menggunakan otentikasi biometrik,” kata Mammo.

Menurut Mammo, pengelolaan data pribadi pengguna dengan sertifikat elektronik, selain mematuhi undang-undang, juga menguntungkan pengelola platform karena dapat menghubungkan pengguna dengan layanan pihak ketiga tanpa harus merepotkan pengguna untuk mengisi data lagi. harus dikonfirmasi ulang.

“Saat nasabah tersertifikasi secara elektronik, saat pengelola platform digital akan memberikan layanan tambahan, misalnya berupa pembiayaan, kami dapat dengan mudah memberikan data atas persetujuan end user kepada perbankan,” ujarnya.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)