liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Buah Pemberdayaan UMKM BRI, Kopi Takengon Aceh Sampai di AS

Jakarta, CNBC Indonesia – Bagi Rahmah, kopi adalah hidupnya. Dengan bantuan permodalan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), perempuan asal Takengon, Aceh Tengah, Provinsi Aceh ini membesarkan Koperasi Pedagang Kopi Ketiara hingga bisa mengekspor Kopi Gayo ke luar negeri.

Rahmah menuturkan, pada 1992, awalnya ia membuka toko sembako. Modal yang didapat dari BRI sebesar Rp 4 juta. Saat itu, ia menerapkan sistem barter di toko kelontong, dimana mayoritas petani di sana yang ingin membeli kebutuhan pokok, akan menukarnya dengan kopi.

Usaha Rahmah terus berkembang. Untuk mendukung permodalannya, ia mendapat suntikan dana dari BRI dengan nominal yang terus meningkat menjadi Rp 6 juta, kemudian Rp 8 juta dan Rp 14 juta pada tahun 1990-an.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Dalam mengembangkan usahanya, ia juga mengikuti pameran kopi lokal di Bali, Yogyakarta, dan Jakarta untuk memperluas pasar domestik. Ajang promosi tersebut merupakan ajang yang digelar BRI untuk mendorong pengembangan bisnis para pelaku UKM. Jumlah kopi yang dijualnya saat itu mencapai 100-200 ton sebulan hingga pada tahun 2004, Rahmah kembali mendapat modal dari BRI sekitar Rp 600 juta.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2009 Rahmah yang terus memberdayakan petani kopi Gayo di wilayahnya membentuk Koperasi Pedagang Kopi Ketiara. Berawal dari 30 anggota termasuk manajemen, ia rajin merekrut petani untuk diberdayakan hingga kemudian jumlah anggota mencapai 800 petani. “Karena BRI dinaikkan, kita tidak akan melupakan BRI,” ujarnya.

Dalam memperkenalkan Kopi Gayo ke pasar luar negeri, Rahmah sering mengikuti festival kopi global di Seattle, Chicago dan Boston di Amerika Serikat, Belanda, Jerman dan Hungaria.

Untuk itu, guna mempertahankan pasar ekspor, Koperasi Penjual Kopi Ketiara dituntut untuk menjaga standarisasi produk melalui sertifikasi internasional yang telah diperoleh. Rahmah menjelaskan, hanya untuk sertifikasi produk organik, standardisasi di tanah diaudit secara berkala.

“Perkebunan kopi dipastikan bersih dari zat anorganik seperti bahan kimia dalam pupuk. Untuk standardisasi fair trade, aspek keuangan diaudit,” ujarnya.

Rahmah selaku pimpinan Koperasi Kopi Ketiara kini memiliki anggota mencapai 1.500 petani, dimana 1.400 diantaranya bersertifikat organik dan masuk dalam sistem fair trade. Para petani tersebut berasal dari 19 desa di Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.

Saat ini, koperasi yang diketuai Rahmah menjual kopi untuk ekspor dengan 70% pasarnya adalah Amerika Serikat. Selebihnya adalah negara-negara di Eropa dan Asia. Di sisi lain, koperasi yang kerap dibina Rahmah ini juga mengedukasi para petani dan masyarakat di sana untuk menjaga standarisasi dan kualitas kopi.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Perkuat Penasihat Keuangan, Bagaimana BRI Mensejahterakan Ekonomi Desa

(rah/rah)