liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Bisnis Quilt di Endorse Ridwan Kamil! Modal Kecil & Cuan Gede

Jakarta, CNBC Indonesia – Pekerjaan paling menyenangkan di dunia adalah hobi yang dibayar, kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Pernyataan tersebut ada benarnya, karena ketika kita melakukan hobi kemudian mengubahnya menjadi sumber penghasilan, kita akan mendapatkan dua kepuasan yaitu kepuasan emosional dan kepuasan materi.

Itulah yang dirasakan Hari Sutji, seorang perajin kain perca yang menggunakan teknik quilting (membuatnya dengan menggabungkan tiga lapis bahan) yang berhasil meraup uang puluhan juta rupiah dari hasil hobi menjahitnya.

Hari adalah pemilik bisnis Farah Quilt (@farahquilt_collection). Usaha ini ia dirikan pada 2008. Namun, pada awalnya, Hari tidak berniat menjadikan hobinya itu sebagai sumber penghasilan, namun keluarganya memahami potensinya.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Sejak kecil, Hari sangat suka membuat kerajinan tangan. Hobinya berawal dari keinginan membantu ibunya membuat sarung bantal, sejak saat itu ia dikenalkan dengan mesin jahit. Semakin hari, ia semakin menikmati proses produksi kerajinan menjahit. Baru pada akhirnya, ketika dia sedang berlibur di perguruan tinggi, dia membuat selimut pertamanya dari sisa-sisa bibinya.

“Waktu saya liburan kuliah, teman saya ada sisa kain yang saya jadikan sebagai selimut, saya tidak pakai ilmu, saya tidak pakai apa-apa, bentuknya kotak-kotak saja, flanel campur katun,” kenangnya. CNBC Indonesia di Trade Fair Jakarta International Crafts (INACRAFT) Rabu (26/22)/2022).

Rupanya, selimut kain perca sudah tua. Selimut itu dipakai sejak kuliah, lalu terus menikah hingga dipakai oleh anaknya. Setelah lama digunakan, kualitas selimut menurun. Karena dia tidak terlihat baik lagi, dia meminta anaknya untuk membuang selimut itu. Namun, putranya enggan membuangnya karena terlalu nyaman, dan memintanya untuk membuat yang baru.

“Sampai anak saya pakai, jelek, saya bilang jelek, ibu buang, terus dia bilang pokoknya, kalau buat saya, saya mau buang, akhirnya saya berhasil,” lanjutnya. .

Akhirnya Hari kembali membuat selimut perca. Setelah jadi, selimut tersebut kemudian dilihat oleh suaminya yang memang seorang pengusaha, suaminya melihat bahwa selimut tersebut memiliki nilai jual. Maka selimut tersebut malah ditawarkan oleh suaminya kepada rekan bisnisnya yang ternyata tertarik dengan rekannya tersebut. Hingga akhirnya permintaan berdatangan deras, bahkan dari luar negeri dan Hari pun mulai mencari nafkah dari hobinya tersebut.

“Setelah selesai, suami saya melihat karena dia seorang pengusaha, ‘wow, ini bisa dijual di sini, saya akan menjualnya’ dan kemudian dia menawarkan mitra bisnis Filipina, dia menyukai orang itu dan menginstruksikan saya untuk memiliki 6 sekarang. , kebiasaannya juga,” kenangnya.

Berawal dari situlah akhirnya Hari melanjutkan hobi sekaligus usahanya tersebut. Dia bahkan mempelajari sendiri teori dan pola kerajinan kain perca melalui buku. Tidak jarang buku yang dibacanya berbahasa Inggris sehingga ia memiliki pengetahuan yang banyak dan luas tentang pola kain perca untuk terus berkreasi.

Inilah yang membuat produk tambal sulam Hari begitu populer. Alasannya karena menggunakan pola yang langka dan ekslusif, 1 pola 1 produk. Ia juga selektif dalam memilih bahan karena ingin memberikan kualitas pekerjaan yang terbaik.

“Saya belum pernah bikin produk polos, biasanya orang bikin belakang polos, kalau punggung saya ada batiknya bagus, jadi saya bisa pakai sana-sini. Dan biasanya untuk belakang saya mengikuti karakter depan,” kata Hari.

“Kadang orang mencari yang unik, saya sangat selektif dalam membatik, seperti total ada 60 kain yang saya potong menjadi satu selimut,” ujarnya lagi.

Dia memulai dengan modal Rp 10 juta untuk membeli mesin jahit dan beberapa kain, namun kini sebuah produk bisa dijual puluhan hingga puluhan juta rupiah.

Walaupun harganya cukup tinggi hanya untuk 1 produk, namun karena keunikan dan eksklusivitas kain perca itulah permintaan terus berdatangan. Karena memang produk kerajinan memiliki segmen pasar tersendiri, selain itu produk tersebut memiliki nilai seni yang tinggi.

“Ada yang beli di Jakarta, yang saya heran yang mahal biasanya yang dijual duluan,” jelasnya.

Untuk memperkenalkan karyanya, Hari aktif mempromosikannya di media sosial. Ia bergabung dengan komunitas di media sosial yang beberapa kali diberi tempat untuk melakukan promosi. Selain itu, ia juga tidak malu memperkenalkan karyanya kepada teman-teman lamanya. Bahkan di masa pandemi, permintaan justru datang dari grup chat.

“Saat pandemi, teman saya membeli 3 selimut seharga Rp 21 juta. Banyak rombongan, kami tidak tahu siapa yang butuh apa, jadi kalau kami perkenalkan ada yang butuh. Lumayan kemarin ada yang beli total 5 selimut, lalu membeli tempat tisu, dompet, tas, bahkan ada yang memesannya untuk keperluan kantornya,” ujarnya.

Sekarang, dia tidak hanya memproduksi selimut perca. Produknya pun semakin beragam, mulai dari tempat tisu, dompet, tas, hingga topi yang digandrungi anak muda.

Meski produk kain percanya diminati banyak pembeli, ia mengaku jiwanya masih seperti seniman dan bukan pengusaha. Karena itu, ia tidak banyak menjual hasil kerajinan tangannya. Karya yang memiliki nilai seni tinggi dan memiliki cerita tersendiri disimpan atau dipamerkan hanya pada saat pameran. Karena Hari berharap suatu saat bisa menggelar pameran tunggal yang menampilkan perjalanan karyanya dari waktu ke waktu.

[Gambas:Video CNBC]

(Anisa Sopiah/ayh)