liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Banyak Pria Berumur 'Mati Kesepian'!

Jakarta, CNBC Indonesia – Korea Selatan menghadapi masalah ‘single lonely’, di mana ribuan warga, kebanyakan pria lajang yang lebih tua, terisolasi dan meninggal sendirian setiap tahun.

Mereka yang ‘mati kesepian’ baru ditemukan beberapa hari atau minggu setelah kematiannya.

Fenomena yang meluas ini disebut godoksa dan telah ditangani oleh pemerintah daerah selama bertahun-tahun. Masalah ini mendapat perhatian nasional sejak satu dekade terakhir karena jumlah kematian akibat fenomena ini terus meningkat.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Penyebab ‘kematian yang sepi’ antara lain krisis demografi negara, ketidaksetaraan sosial, dan kemiskinan, yang semakin nyata selama pandemi Covid-19.

Dilansir CNN International, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan melaporkan pada tahun 2021, negara tersebut mencatat 3.378 kasus ‘kematian kesepian’. Angka ini naik dari 2.412 pada 2017.

Laporan kementerian tersebut adalah yang pertama sejak pemerintah memberlakukan Undang-Undang Pencegahan dan Penanganan Kematian Kesepian pada tahun 2021, yang pembaruannya diperlukan setiap lima tahun untuk membantu menciptakan kebijakan guna mencegah fenomena tersebut.

Sementara ‘kematian yang sepi’ memengaruhi orang-orang di berbagai demografi, laporan tersebut menunjukkan pria paruh baya dan lebih tua tampaknya sangat berisiko. Tercatat jumlah pria yang akhirnya ‘mati sendiri’ adalah 5,3 kali lipat dari wanita pada tahun 2021 atau meningkat dari empat kali lipat sebelumnya.

Orang berusia 50-an dan 60-an menyumbang hingga 60% dari ‘kematian kesepian’ tahun lalu, dengan jumlah besar di usia 40-an dan 70-an. Sedangkan penduduk usia 20-an dan 30-an menyumbang 6% hingga 8%.

Laporan tersebut tidak menyebutkan alasan persentase ini. Namun, fenomena ‘kematian sepi’ telah dipelajari selama bertahun-tahun karena pihak berwenang mencoba memahami penyebab fenomena ini dan bagaimana cara menguranginya.

Selain itu, meningkatnya perhatian publik atas ‘kematian yang sepi’ telah mendorong berbagai inisiatif regional dan nasional selama bertahun-tahun. Pada tahun 2018, pemerintah Kota Seoul mengumumkan program pemantauan lingkungan, di mana penduduk mengunjungi area yang banyak orang terpapar, seperti apartemen bawah tanah atau perumahan khusus.

Di bawah rencana ini, rumah sakit, tuan tanah, dan staf toko serba ada bertindak sebagai pengawas dan memberi tahu pekerja komunitas ketika tidak ada yang terlihat untuk waktu yang lama.

Selain itu, beberapa kota, termasuk Seoul, Ulsan, dan Jeonju, meluncurkan aplikasi untuk mereka yang tinggal sendirian. Melalui aplikasi ini, mereka secara otomatis mengirimkan pesan ke kontak darurat jika ponsel tidak aktif selama beberapa waktu.

Organisasi lain seperti gereja dan organisasi nirlaba juga meningkatkan layanan penjangkauan dan acara komunitas. Selain itu juga menangani upacara penguburan orang mati yang tidak memiliki sanak saudara.

Undang-undang untuk menangani fenomena ini yang disahkan tahun lalu adalah undang-undang terbaru dan terluas. Berdasarkan peraturan ini, pemerintah daerah harus membuat kebijakan untuk mengidentifikasi dan membantu mereka yang berisiko.

Selain membuat laporan situasi lima tahunan, pemerintah juga diminta menyusun rencana pencegahan komprehensif yang masih terus berjalan.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada bulan November, Pusat Kesejahteraan Seoul merekomendasikan agar pihak berwenang menciptakan lebih banyak sistem pendukung untuk kelompok produktif, termasuk program pendidikan, pelatihan, dan konseling.

Sementara itu, Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Cho Kyu-hong mengatakan Korea Selatan mencoba menjilat negara lain, termasuk Inggris dan Jepang, yang baru-baru ini meluncurkan strategi untuk mengatasi ‘kematian yang sepi’.

“Studi ini dimaksudkan sebagai langkah awal bagi pemerintah pusat dan daerah untuk mengambil tanggung jawab dalam menghadapi krisis baru di bidang kesejahteraan ini,” ujarnya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

buruk! Oppa Korea semakin enggan melahirkan, kenapa?

(wow)