liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
master38
Banyak Aplikasi Kencan, Benarkah Cari Jodoh Jadi Lebih Mudah?

Jakarta, CNBC Indonesia – Aplikasi kencan atau aplikasi kencan online telah menjadi platform populer di masyarakat modern saat ini, terutama generasi milenial dan Gen Z.

Sempat dianggap tabu, ternyata aplikasi kencan online seperti Bumble, Tinder, TanTan, Omi, OkCupid, dan Badoo menjadi aplikasi andalan banyak orang untuk mengisi waktu luang, mencari teman baru, dan mencari pasangan.

Berdasarkan data dari Mozillion, sejak Oktober 2021 hingga Maret 2022, aplikasi kencan atau dating mendapatkan total 450 ribu pencarian di Google. Faktanya, Business of Apps mengatakan bahwa pengguna internet menghabiskan 16 persen waktunya untuk aplikasi kencan online.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Geser ke kanan, geser ke kiri, jodohmu datang berlari?

Foto: Aplikasi kencan online, Bumble (Foto oleh Good Faces Agency di Unsplash)

Secara teknis, menggunakan aplikasi kencan online sangat mudah. Setelah mendaftar dan mengisi beberapa data, pengguna akan diberikan pilihan jutaan orang yang juga menggunakan aplikasi tersebut. Jika Anda menyukai orang yang direkomendasikan, pengguna dapat menggesek ke kanan dan ke kiri sebagai gantinya.

Ada beberapa aspek yang menentukan apakah seseorang akan disukai atau tidak disukai oleh pengguna lain, itu tergantung pada preferensi masing-masing individu, seperti tinggi badan, kebiasaan olahraga, pendidikan, agama, pandangan politik, zodiak, dan rencana keluarga. Aspek-aspek ini tercantum dalam profil dan dapat diisi setelah pendaftaran.

Namun, rutinitas menggesekkan ibu jari Anda ke kiri dan ke kanan di layar untuk ‘memilih’ pasangan potensial tidak seperti yang diharapkan. Apalagi setelah mendapat banyak penolakan berupa ghosting, unmatching, bahkan blokir kontak sesuai kecocokan di aplikasi dating.

Rata-rata pengguna aplikasi kencan online cenderung mengalami stres, rasa tidak aman, frustrasi, sakit hati, dan perasaan bahwa harga diri mereka hancur setelah mengalami penolakan. mempelajari Strategi Pengungkapan Diri dan Penolakan Timbal Balik di Bumble

Sebuah studi yang diterbitkan di Jurnal Sage berjudul Strategi Pengungkapan Diri dan Penolakan Timbal Balik di Bumble menemukan bahwa sementara beberapa interaksi melalui aplikasi kencan online mengarah ke pertemuan, sebagian besar hubungan berakhir sebelum pertemuan tatap muka terjadi.

Salah satu peristiwa paling ‘pahit’ dan sering diabaikan di era aplikasi kencan adalah ghosting. Menurut Koessler dalam penelitian yang sama, ghosting adalah strategi yang digunakan secara sepihak untuk mengakhiri hubungan dengan pasangan yang pernah menjalin hubungan asmara.

Akibat menjadi hantu, seseorang bisa mempertanyakan harga dirinya, seperti menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa melakukan percakapan yang menarik, merasa tidak menarik dari segi penampilan, merasa tidak layak menjalin hubungan, hingga merasa tidak cocok untuk berhubungan melalui online. aplikasi kencan. .

Dalam Studi Timbal Balik Pengungkapan Diri dan Strategi Penolakan di Bumble, rata-rata pengguna aplikasi kencan online terpapar stres, rasa tidak aman, frustrasi, sakit hati, dan rasa harga diri hancur setelah mengalami penolakan.

Benarkah banyak orang menyerah pada aplikasi kencan?

Foto: Priscilla Du Preez melalui Unsplash
Ilustrasi kencan

Aura (bukan nama sebenarnya) telah menggunakan aplikasi kencan online dari tahun 2017 hingga 2020. Selama tiga tahun menelusuri aplikasi kencan online, wanita berusia 36 tahun ini telah mencoba tiga aplikasi berbeda, yaitu aplikasi kencan berbasis web, Tinder dan Menggagap.

“[Alasan pakai aplikasi itu] karena teman saya punya pria turki. Dia memberi tahu saya bahwa pria Turki tampan dan mudah diajak bicara karena pemikiran mereka setengah Asia dan setengah Eropa. Di sana kebetulan bulenya banyak, bisa pilih daerah, dan tidak bayar,” kata Aura kepada CNBC Indonesia, Senin (9/1/2023).

Awalnya, Aura merasa nyaman nongkrong di aplikasi kencan, tapi lama kelamaan dia merasa tidak nyaman karena banyak pria yang memiliki fetish aneh, meski Aura merasa dia memiliki kecocokan intelektual.

Selain alasan jimat, Aura juga merasa tidak nyaman dengan jarak geografis antara dia dan pasangannya, serta merasa bosan dan kehilangan perasaan terhadap lawannya.

Setelah rehat dari dunia kencan online, di tahun 2019 ini Aura akhirnya memutuskan untuk kembali ke aplikasi kencan online. Dia mencoba beberapa aplikasi berbeda hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti total. Alasan utamanya: lelah gagal membangun relasi baru.

“Saya mulai merasa ini (aplikasi kencan online) bukan tempat saya mencari jodoh karena ternyata itu bukan saya yang sebenarnya. Saya merasa sangat lelah, mencari aplikasi kencan seperti itu. Saya berpikir ‘ Bagaimana orang lain menemukan jodoh, saya belum?'” kata Aura.

Meski sering mengalami kelelahan mental akibat penggunaan aplikasi kencan online, Aura merasa lebih mengenal dirinya sendiri setelah melalui ‘petualangan’ kencan online melalui aplikasi tersebut. Aura merasa dia tahu apa yang sebenarnya dia inginkan dan butuhkan dalam diri pasangan.